All About Love
STORIES

Dia yang Teristimewa

Ketika teman, sahabat bahkan orangtua sedang tidak mempedulikanku. Dia, orang yang selalu menyemangatiku, selalu mendengarkanku saat aku sedang berkeluh kesah. Buatku mengenal dia merupakan sebuah kado terindah dalam hidupku. Aku Maria, seorang siswi di sebuah Sekolaj menengah atas yang bisa dibilang terbaik di daerahku. Aku mengenalnya saat aku masuk Sekolah tersebut, dia itu teman dari sahabatku, namun lama kelamaan aku sering bersamanya, bahkan sahabatku sendiri sangat mendukung jika aku tetap bersamanya.

Bisa dikatakan aku itu egois, mudah marah dan susah buat diajak bercanda. Entah sudah berapa kali aku minta putus hubungan dengannya. Hmm tapi dia tetap sabar dan ingin bertahan bersamaku.


“Aku nggak peduli, mau kita lagi marahan atau enggak, mau kamu bales sms aku atau enggak, aku akan tetep ada buat kamu,” kata dia.

 

Dia juga berkata, “Aku sudah sabar, kamu terus minta putus hubungan denganku, aku masih ingin bertahan bersamamu,” uhhh dia menyebalkan?

 

Pernah pada suatu hari di sekolah, dia punya salah padaku dan aku tidak mengeluarkan kata-kata untuk memaafkannya.


“kita pulang bareng ya?” kata dia saat itu.
“gak bisa, aku pulang sendiri aja,” aku menolaknya, kemudian pulang ke rumah dengan kendaraan umum.

 

Ketika di mobil aku bertemu dengan teman sekolahku yang pulangnya searah juga denganku, namanya Angel saat itu dia selalu menaiki motor yang di parkir di penitipan, aku pun berniat menebeng dengannya.

 

Sesampainya di parkiran, Angel berkata, “Lah itu siapa Ni?”
“siapa apanya?”
“itu Pieter, Marni kamu pulang bareng dia aja,”
“Laah,” aku yang sedang tidak memperhatikan di depanku tak menyangka di depan ada Pieter yang sedang menungguku sejak tadi, dengan seragamnya yang kotor yang dia bilang karena terciprat mobil saat itu sedang hujan.

 “Maaaff,” dengan mata yang berkaca-kaca. Ya dia nggak peduli hujan.

Aku tidak melihatnya mendahului mobil yang aku tumpangi saat pulang. ternyata dia mencari jalan cepat untuk sampai duluan tanpa aku mengetahuinya.

Ya, apa boleh buat, karena aku masih sayang padanya aku pun memaafkannya dan pulang ke rumah bersamanya, tidak bersama Angel, saat itulah aku berhenti untuk bersikap egois padanya.

4 Sekawan, Sehati

Sekarang aku kelas VIII, ku jalani hari di sekolah selalu bersama dengan ketiga sahabatku yang bernama Putri, Ahmad dan Rudi. Kita berempat bersahabat sejak kecil.

Saat kami menulis surat perjanjian tentang persahabatan di sebuah kertas kemudian dimasukan ke dalam botol lalu dikubur di bawah pohon dengan tujuan surat tersebut akan kami buka saat kami menerima hasil ujian kelulusan.

Hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba, setelah dapatkan hasil ujian yang memuaskan, kami pun berlari ke bawah pohon dimata botol yang berisi surat perjanjian kita kubur, kemudian kami membaca isi tulisan dari surat.

“kami berjanji akan selalu bersama untuk selama lamanya”

Keesokan harinya Ahmad berecana untuk merayakan kelulusan kami dan malam harinya kami pergi bersama-sama ke sebuah tempat, di tempat inilah saat-saat yang gak bisa aku lupakan karena Aris berencana untuk menyatakan cinta kepadaku kemudian akupun menerima cintanya dan akhirnya kita berpacaran, dan tidak mau kalah dengan Ahmad, Rudi pun akhirnya menyatakan cintanya kepada Putri, mereka pun akhirnya berpacaran juga.

Dalam perjalanan pulang perasaan ku sungguh tidak enak
“perasaan ku kenapa gak enak banget ya?” ucap aku dengan khawatir
“udah lah Na, santai aja kok kita gak bakalan kenapa-napa” ucap Rudi dengan santai
Tak lama kemudian setelah mereka berbicara ternyata hal yang dikhawatirkan Ratna terjadi
“Ahmad awwasss…!!! di depan ada jurang!!!” teriak Ratna
“Aaaaaa…!!!”
Brukkk, mobil kami masuk jurang, aku sungguh tak kuasa menahan air mata dan akhirnya pun aku tak sadarkan diri.

Perlahan-lahan ku buka mata sedikit demi sedikit aku dan melihat ibuku sudah berada di sampingku
“Ratna?, kamu sudah sadar nak?” tanya ibuku cemas
“aku di mana bu? Rudi, Ahmad, Putri di mana bu?”
Kamu di rumah sakit nak, kamu yang sabar ya nak Putri, Rudi dan Ahmad karena tidak sadarkan diri, mereka harus menjalani pengobatan di luar negeri tertolong s
Aku pum hanya terdiam mendengar ucapan ibu, tiba-tiba air mata ku menetes, tangisku tiada hentinya mendengar semua ucapan itu.
“Ahmad, semoga kamu baik-baik saja, aku sayang banget, aku cinta sama kamu” ucapku dalam hati.

 

1 Minggu berlalu, aku pun berkunjung ke salah satu rumah sakit di Singapure, saat perjalanan aku berharap mereka semua baik-baik saja, dan aku gak tau apa yang akan terjadi bila aku kehilangan sahabat sejatiku.

Awalnya Benci, ehhh Malah Jatuh Hati

Lama-kelamaan jadi suka tinggal di desa ini, Ayah dan Ibuku pun memutuskan untuk menetap disini. Seperti biasanya pagi itu saat aku pergi ke sekolah bareng Putri dan Marni. Ujian di mulai hari ini tapi aku belum belajar, ingin rasanya cepat-cepat menuju kelas agar bisa membaca materi-materi ujian.

“Putri dan Marni aku ke kelas duluan yaa, mau belajar nih soalnya!” ucap ku sembari meninggalkan mereka di depan gerbang sekolah. Aku berlari secepat kilat tanpa sengaja, bruuuugggg, aku menabrak Rudi. bukuku berantakan dan aku terjatuh, kakiku lecet-lecet, “Maaf saya tidak sengaja!” ucap Rudi dengan nada ketus menyodorkan buku-buku ku yang dipungutnya. Dengan reflek aku pun menoleh ke atas, ternyata Rudi yang menabrakku itu adalah anak baru yang kemarin aku temui. “kalau punya mata di pakai” gumamku dengan nada kesal. “loh, lu kok nyalahin gue? Jelas jelas lu yang salah, pake lari-larian di koridor sekolah, kalo mau lari dilapangan! udah sini bangun” jawab Rudi sambil menyodorkan tangannya ke arahku. Aku pun menjabat tangannya, Rudi pun memapahku sampai ke UKS dan mengobati kaki ku yang lecet-lecet.

“Cewek tengil kaya lo ternyata bisa luka juga yah!” Ledek Rudi. “Apa? Gue cewek tengil? Lu tu yang so cool” ucapku dengan nada bertambah kesal.
Ting ting ting, bel pun berbunyi. “Udah sana ke kelas udah masuk tuhh” ucap Rudi. “Iyee iyee, tapi gua gak bisa jalann” jawabku. “Ya udah sini gua anterin, sebenernya sihh gak mau juga nganterin cewek tengil manja kaya lo, tapi ya udah lah secara kan gue baik hati” ujar Rudi nyebelin.

“Udah sampai tuhh sana masuk, oiya bilang makasih atau apa kek” ucapnya sambil memasang muka sok cool nya. “Maksa banget,ya udah makasih!” kata ku sambil masuk ke kelasku.

Bel pun berbunyi tanda ujian telah selesai, seperti biasanya aku menuju tempat favoritku di taman belakang sekolah. Sembari duduk di bawah pohon tua seperti biasa aku pun menyalakan lagu kesukaanku. *aku kan menunggu seribu tahun lagi “Suara gak bagus aja pake nyanyi bikin gigi gua sakit aja” ucap Rudi yang seketika membuat aku berhenti menyanyi. Aku pun menoleh ke belakang betapa terkejutnya aku ternyata Rudi “aahh sial hari ini aku benar-benar sial kenapa sih harus ketemu orang seperti dia” gumamku dalam hati. “ngapain lo disini? ngikutin gua yaa?” Tanyaku dengan muka meledek. “ihhh PD banget sih lo gak level kali ngikutin cewek kaya lo!” Jawab Rudi.

Seiring berjalannya waktu Aku dan Rudi pun sering bertemu, Pagi itu mungkin adalah pagi yang paling menyebalkan bagiku, Aku bertemu Rudi anak baru yang cool itu rasanya ingin ku acak-acak wajahnya sungguh menyebalkan. “Ngapain liat-liat?” tanyaku kepada Rudi yang pada saat itu memandangiku. “Ge er banget sih lo? siapa coba yang ngeliatin lo? orang gua lagi ngeliatin tulisan di belakang lo” jawab Rudi mengelak. “Ahh pake ngeles lagi bilang aja lagi ngeliatin gue kan? iya kan?” ucapku sambil meledek Rudi. “Ih enggak tau, lah udahlah gue gak ada waktu buat ngomong sama lo” ucap Rudi sambil berjalan menuju kantin. “Cantik sih, pinter lagi tapi sayangnya nyebelin banget” Gumam Rudi dalam hati sambil mengingat wajah maria yang cantik. “Hayoo lo! lagi ngelamunin apaan?” Tanya Toni yang seketika menghentikan lamunan Rudi. “Enggak Ton, cuma lagi mikirin pelajaran tadi” Jawab Rudi.

*ting, ting, ting bel pulang pun berbunyi. Dari kejauhan terlihat Rudi yang sedang berdiri di depan kelas tanpa sadar aku memandangi wajahnya. “hmmm… cakep juga tuh cowok tapi sayangnya bikin jengkel mulu” Gumamku dalam hati. “Ayo ta pulang!” Ucap Putri dan Marni sahabatku yang seketika menghentikan lamunanku. Akhirnya kami pun pulang, saat perjalanan pulang lagi-lagi aku bertemu dengan manusia paling nyebelin yang pernah aku kenal tapi ada yang sedikit berbeda dengan perasaanku kali ini entah mengapa hatiku bergetar-getar tak karuan. Rudipun juga merasakan hal yang sama.

The True Love

Cinta sejati. Apakah kalian percaya akan itu? Akan "Cinta Sejati" yang konon katanya dimiliki oleh semua orang? Cinta yang katanya sangat indah dan menyenangkan? Mitos cinta sejati yang terus menerus melolong dihatiku
Kupandangi bingkai biru di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum menatap benda yang ada didalam bingkai itu.
Bukan sebuah foto ataupun lukisan. Hanya sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang aku robek dari buku miliknya 2 tahun lalu saat perpisahan SMP. Dia sama sekali tidak tahu aku merobek buku catatanya. Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya satu dari ratusan penggemarnya di sekolah.
Dia bukan artis. Dia adalah siswa tampan dan cerdas di sekolahku. Dia kaya dan pintar dalam bidang olahraga. Sifatnya yang cuek justru menjadi daya tarik bagi para kaum hawa, termasuk aku. Tapi, bisa dibilang, aku tidak terlalu menunjukkan diri bahwa aku menyukainya. Terbukti. Aku tidak pernah menyapa ataupun menegurnya. Aku menyukainya lewat diam.
Bahkan, robekan catatan PKN itu aku ambil diam- diam untuk kenang- kenanganku karena aku tahu dia akan melanjutkan study ke L.A.
Aku kembali tersenyum manis saat melihat robekan catatan itu. Orang bilang, apapun itu, jika memang jodoh, maka dia akan kembali lagi dan lagi. Dan aku percaya dia akan kembali kulihat.
Aku mengeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk- peluk dan kubelai. Ku ajak tertawa dan tersenyum.
Gila. Konyol memang. Setelah puas dengan kegiatanku itu, aku meletakkan kertas itu di atas meja belajarku. Dan...
Syuuuut...
Angin bertiup menerbangkan kertas kenangan itu keluar jendela dan jatuh dipekarangan. Dengan sigap aku keluar rumah dan mengejar kertas itu. Itu adalah satu- satunya milikku yang mampu membuatku mengingatnya.
Saat aku hampir mendapatkanya, angin kembali meniupnya menjauhiku. Argh! Angin ini! Batinku kesal.
Aku kembali mengejar kertas itu. Dan saat aku hampir mendapatkannya kembali...
"Argh!! Sial banget sih?! Malah keinjek lagi!" seruku kesal saat tahu kertas itu di injak seseorang. Orang itu mengambil kertas yang ada di injakannya itu. Aku masih menatap jalanan berdebu dengan kesal.
"Jadi, daritadi kamu ngejar kertas ini ya?" ucap orang itu. Suara bariton yang ku kenal. Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah dari si pemilik suara.
DEG!!!
Di... Diakan? Diakan pemilik kertas itu sebenarnya? Vigo. Cowok tampan, keren dan pintar
itu... Bagaimana bisa?
"Ma... af. Aku ngerobek kertas itu...."
"gapapa kok Dina. Beneran deh gapapa. Karena, aku juga udah foto kamu diam- diam waktu itu." akunya padaku. Dia... Tau namaku?
"foto?! Diem- diem?"
"Lebih baik, kita nostalgianya ditaman aja deh." ucapnya sambil menarik tanganku ke taman. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Fotoku ada dalam dompet Vigo?
"Aku dulu suka banget sama kamu Dina. Karena, kamu itu satu- satunya cewek yang gak pernah negur aku. Kamu cuek dan aku suka itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Dulu, aku berharap bisa kenal dan pacaran sama kamu. Tapi, dekat kamu aja aku udah gemetaran, apalagi ngobrol sama kamu..." ucap Vigo lagi. Lalu dia menatap robekan kertas itu.
"Aku tau kok, kamu ngerobek kertas ini. Cuma aku pura- pura gatau aja. Aku seneng banget waktu kamu robek kertas ini. Karena itu artinya, kamu juga suka sama aku. Iyakan?" ucapnya yang membuatku tersipu malu.
"Ikh... Kok diem aja?" ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
"aku bingung mau ngomong apa..."
"Kamu percaya mitos True Love gak?"
"True Love? Emang ada?" tanyaku.
"mulanya, aku juga gak percaya. Tapi malem ini aku percaya. True Love aku udah aku temuin lagi. Aku suka kamu." ucapnya sambil natap bintang.
"udah jam 12 belom?" tanyanya.
"udah. Udah jam 12 tepat."
"Happy Birthday Dina :). Will you be My True Love?"
Tanpa sadar, aku mengucapkan "yes. I will."

Why do you Love me?

Suatu hari, seorang pasangan kekasih Maya dan Aldo sedang berjalan-jalan di taman. Dipetiknya sebuah bunga yang cantik oleh si pria dan diberikan kepada kekasihnya, "ini untukmu sayang." Di luar dugaan, kekasihnya justru terdiam. Tak berapa lama kemudian ia bertanya pada kekasihnya?

Maya: Kenapa kau menyukaiku? kenapa kau mencintaiku?

aldo: Aku juga tidak tahu alasannya. Tetapi aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu, sayang.

Maya: Kamu jahat. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasanpun mengapa kau menyukai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti kau akan meninggalkan aku. Bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku jika kau tak tahu alasannya?

Aldo: Aku benar-benar tidak tahu alasannya, sayang. Tetapi, bukankah perhatian, kasih sayang dan kehadiranku di hidupmu sudah menjadi bukti cintaku?

Wanita: Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan, kenapa kamu bisa menyukaiku? Kenapa kamu mencintaiku?

Aldo: Baiklah, akan kucoba cari alasannya. Eum... karena kamu cantik, kamu punya suara yang indah, kulitmu halus, rambutmu lembut... Cukupkah alasan itu?

Kekasihnya kemudian mengangguk, dan menerima bunga itu dengan senang hati.

Beberapa hari kemudian, sebuah kecelakaan menimpa wanita tersebut. Ia harus kehilangan rambutnya yang panjang dan lembut karena terjepit dan terpaksa harus dipotong. Ia juga harus kehilangan suara dalam beberapa waktu karena pita suaranya terbentur keras. Kulitnya yang dulu halus mulus kini terpapar beberapa jahitan. Ia terbaring tak berdaya.

Di sampingnya ada secarik surat. Iapun membacanya.

"Kekasihku,

Karena suaramu tak lagi semerdu dulu, bagaimana aku bisa mencintaimu? Dan karena rambutmu kini sudah tak panjang dan lembut lagi, aku tak bisa membelainya. Aku juga tak bisa mencintaimu.

Apalagi kini banyak jahitan di wajahmu yang dulu mulus.

Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar-benar tak bisa mencintaimu lagi sekarang.

Tetapi....

Cintaku bukan cinta yang palsu.

Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena kau punya suara yang merdu, rambut yang indah serta kulit yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun.

Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh, kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu.

Menikahlah denganku..."

Cinta tak pernah membutuhkan alasan. Ia juga akan tetap hadir secara misterius. Datang tanpa pernah diduga sebelumnya. Percayalah akan kekuatan cinta, karena kau tak pernah tahu seberapa besar ia akan membuat hidupmu bahagia.

Cinta Seorang Ibu

Angel seorang gadis kecil bersama ibunya sedang menyebrangi jembatan yang rapuh “anakku pegang tanganku yang kencang” sang ibu menyuruh anaknya.

“Tidak ibu, ibulah yang harus memegang tangganku dengan kencang” karena merasa ibunya sudah tua, Angel justru berbalik menyuruh ibunya untuk berpegangan padanya.

“Apa bedanya” tanya sang ibu kebingungan.
“Bedanya sangat besar” jawab sang anak

“kalau ibu yang memegang tangan ibu dan tiba-tiba terjadi sesuatu, mungkin aku akan melepaskan peganganku tapi kalau ibu yang pegang tanganku, aku tahu apapun yang terjadi ibu tidak akan pernah melepaskan tanganku” jelas sang anak